Mengenal Sistem Operasi Mobile – Bagian 2

Pada 2011 yang lalu, saya sempat menuliskan artikel tentang beberapa sistem operasi mobile yang sedang booming pada waktu itu. Perkembangan teknologi terus berlangsung dan kini mendekati penghujung 2013 perkembangan teknologi sistem operasi mobile tersebut masih terus dilakukan. Beberapa masih survive bahkan terus menunjukkan dominasinya di kancah global, beberapa harus tenggelam, dan muncul pula muka-muka baru.

Android

Android on Huawei Ascend P6

Android on Huawei Ascend P6

Tak perlu diragukan lagi bahwa saat ini Android-lah sang penguasa pasaran. Dengan jutaan aktivasi perangkat setiap hari, dan total pengguna yang mencapai angka 900 jutaan, Android mutlak menjadi yang terbaik dan terpopuler di dunia. Android, yang asalnya dikembangkan berdasarkan kernel Linux, berhasil meninggalkan kesan Linux untuk mobile adalah produk yang jelek. Terbukti dengan popularitasnya saat ini.

Meningkatnya popularitas Android tak terelakkan berasal dari lisensi yang dimiliki, open source. Semua orang bisa mengedit, mengembangkan versi Android-nya sendiri tanpa harus membayar pada penciptanya, dalam hal ini Google. Lantas dari mana Google mendapatkan untung? You know Google so well, dari iklan yang ada di aplikasi-aplikasi Android yang di-download dari Play Store.

Selain lisensi, popularitas Android yang meroket juga berasal dari inovasi-inovasi yang diusung oleh vendor perangkat keras yang mengembangkan Android. Salah satu vendor yang saya kagumi secara pribadi, Samsung, merupakan vendor perangkat mobile yang mendulang sukses luar biasa dari keputusan mereka mengembangkan produk berbasis Android. Sukses tersebut didasari dari produk-produk hasil penelitian divisi R & D yang mereka miliki, mulai dari Air View, Smart Stay, S Voice, S Health, dan berbagai inovasi software yang mereka kembangkan khususnya di perangkat seri Note dan Galaxy S.

Tak hanya Samsung saja yang mengadopsi Android. HTC, Sony, LG, Motorola, Huawei, Oppo, dan puluhan vendor yang bahkan tidak pernah terdengar namanya di Indonesia juga mendulang sukses melalui Android. Meski tidak sefenomenal pencapaian Samsung, yang mampu menggulingkan Nokia dari kursi penguasanya.

Kembali ke masalah Android, pada awal-awal pengembangannya dulu, aplikasi Android kalah kualitas dibandingkan dengan aplikasi-aplikasi untuk iOS milik Apple. Sampai sekarang mungkin masih bisa dikatakan demikian, namun sudah jauh lebih mendingan lah. Google telah berupaya mengembangkan Android lebih lanjut dengan mengembangkan standar User Experience  pada Android agar lebih konsisten dan berkualitas. Meski belum semua developer memahaminya.

Ditinjau dari versi Android, pada 2011 yang lalu Gingerbread masihlah yang terbaru, disusul oleh Honeycomb. Setelah itu muncul Ice Cream Sandwich yang kemudian disempurnakan oleh Jelly Bean. Sempat muncul rumor bahwa penerus Jelly Bean, yang berinisial “K” adalah “Key Lime Pie”. Namun, sepertinya Google hendak keluar dari pattern yang biasa mereka ambil, atau mungkin mencoba langkah “marketing” baru dengan merilis nama “Kit Kat” yang merupakan salah satu produk perusahaan Nestle. Terdengar seperti humor? Well, begitulah kira-kira pada saat pertama kali launching nama Kit Kat tersebut. Apapun namanya, orang bilang “what’s in a name” (meski kalau saya bilang nama itu tetap penting!), Android akan tetap membawa fitur inovatif seiring dengan waktu. Kita tunggu saja kelanjutannya.

Windows Phone

WP on Lumia 810

WP on Lumia 810

Salah satu sistem operasi mobile favorit saya dulu. Sempat berekspektasi bahwa sistem operasi mobile ini akan sukses mengingat popularitas Microsoft sebagai perusahaan pengembangnya, Windows Phone (WP) justru hanya berkutat pada presentase pasar 1-2% saja. WP baru bisa “sedikit” populer setelah “raja yang tersingkir” Nokia memutuskan untuk mendukung WP pada lini smartphone mereka. Cukup sukses sebenarnya, tapi tidak cukup untuk menggulingkan Android dari singgasana.

Awalnya sih WP menawarkan kustomisasi dan personalisasi bagi pengguna. Faktanya ketika saya sendiri memakai WP, rasanya cepat bosan. Melihat menu kotak-kotak berwarna saja bisa “mumet”. Aplikasinya minim. Dan dari aplikasi yang minim tersebut, desainnya tidak bisa dibilang konsisten sehingga malah membingungkan. Kurang apa lagi? Bluetooth tidak bisa transfer file (dulu,  di WP8 katanya bisa). Dan yang paling merepotkan (dulu, waktu buat aplikasi di WP8), untuk bisa debug aplikasi di smartphone WP kita butuh developer key, daftar dulu, bayar dulu ke Microsoft?! Android saja asal tancep bisa langsung menjalankan aplikasi di hape. Ini?? Meski bisa diakali dengan mendaftar pakai akun Dreamspark, tetap saja, for me it isn’t practical. Android saja yang penguasa pasar bisa, kenapa platform yang masih “kecil” begini “sombong” sekali pakai acara registrasi? (well, ini pendapat pribadi saja ya J no offense..).

iOS

Masih menjadi yang terbaik dari sisi kualitas. Sampai kini. Bahkan ketika Apple “dipojokkan” oleh berbagai kalangan bahwa iOS telah “outdated” alias usang, Apple terbukti masih menjadi perusahaan yang bisa berinovasi dengan meluncurkan iOS versi 7 yang elegan, mengalami perubahan desain namun tetap mempertahankan user experience yang dipahami pengguna. Artikel tentang iOS 7 sudah saya tuliskan di postingan khusus sebelumnya.

BlackBerry 10

BlackBerry (dan Nokia juga) menjadi bukti nyata bahwa “jangan lengah dengan kesuksesan” sangat berlaku di industri perangkat genggam. Sempat merajai pasar Indonesia pada 2009-2010, BlackBerry menghadapi kenyataan bahwa mereka harus turu sebegitu cepat “hanya” karena telat mengantisipasi selera pasar yang berubah dari QWERTY keyboard ke full touch.

Meski merilis BlackBerry 10 OS setelah serangkaian penundaan rilis, pengurangan karyawan, dsb…BlackBerry tetap gagal menghadapi 2 raksasa smartphone, Apple dan Google. BlackBerrt Z10 yang menggunakan sistem operasi BB 10 yang diharapkan bisa mengangkat pamor BlackBerry ternyata malah menambah beban baru bagi perusahaan. Penjualannya dibilang tidak sukses. Duh….

Tizen

Tizen adalah bentuk antisipasi Samsung (dan Intel) atas dominasi Google yang luar biasa pada Android. Apalagi setelah Google mengakuisisi Motorola, Samsung merasa ada “ancaman” secara bisnis disana dan memutuskan beraliansi dengan Intel dalam mengembangkan Tizen. Belum banyak yang saya pelajari dari platform ini.

Firefox OS

Firefox OS

Firefox OS

 

Apa jadinya kalau Mozilla yang sudah terkenal membuat sistem operasi Firefox untuk smartphone? At least sudah punya nama yang terkenal. Mungkin begitu pemikiran bisnisnya. Dikembangkan (lagi-lagi) dengan basis kernel Linux, Firefox OS menyasar pengguna smartphone kelas menengah ke bawah (katanya awal strategi pemasarannya begitu) meski dengan spesifikasi yang bisa dibilang tinggi. Framework pengembangannya menggunakan HTML 5, berbeda dengan Android yang lebih cenderung ke Java, atau iOS yang cenderung ke Objective-C.

Ada beberapa sistem operasi lain seperti Ubuntu for phone dan juga Sailfish. Namun saya belum sempat mengeksplorasi lebih lanjut. Kenapa? Karena masih harus fokus ke si robot hijau, Android.

 

 

In the new beginning of life

@adistoday

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s